Sunday, April 23, 2017

FLP Surabaya Keren, Jika Telat Wajib Membaca Istighfar

Bismillahirrahmanirrahim..

Alhamdulillah, meski saya telat, saya bisa mengikuti kegiatan FLP Surabaya yang ketiga. Kalau dihitung-hitung, saya telat hampir satu jam. Acaranya mulai jam 8.00, saya datang jam 8.45. Ah, mungkin pada pertemuan berikutnya, nilai saya pasti anjlok. Sebab, di FLP Surabaya, kedisiplinan adalah salah satu ruh organisasi.

Saya telat karena tidur. Maklum, agak capek. Tadi malam ada acara Isra’ Mi’raj di Masjid, tempat saya numpang, (hehehe). Paginya, setelah sholat subuh langsung ka’o, tidur lagi. Bangun jam 8-an. Waduh, langsung bersiap dan ngos-ngosan.

Benar saja, sesampainya di tempat pertemuan, pintu sudah ditutup. Saya telat. Gak apa-apalah. Tahan malu. Dari pada gak dapat ilmu? Mending, malu sedikit-sedikit. Saya tanda-tangan, mengisi absen. Penjaga absen mengisi jam berapa saya datang. Wah, disiplin. Keren..!

Saturday, April 22, 2017

Selamat Berproses !

Entah, aku bingung ingin menulis apa. Ingin mennulis artikel gak punya tinta, ingin menulis cerpen tidak memiliki kata-kata. Hanya ingin tanpa raga, hanya asa tanpa rupa. Tak berlebihan jika keadaanku yang sekarang ini  kuumpamakan deangan burung tanpa sayap; burung yang hanya merangkak ditanah luas, burung yang hanya bisa memandang indahnya langit biru, burung yang hanya bisa mengimpikan terbang bersama awan salju.

Ternyata, aku kurang dalam memahami semua ini. Semua yang ada di dunia ini harus melalui peroses yang sedemikian rumit. Jika tidak, apapun itu hanya semu, tidak memiliki jati diri. Peroses itulah yang menyulap “apa-apa” menjadi sangat berharga. Benaralah kata mas d. Nawawy Sadoellah bahwa pejuang kemerdekaan dihormati bukan hanya karna berhasil mengusir penjajah, tapi juga karena perjuangannya yang begitu gagah.

Friday, April 21, 2017

Berdoanya kok saat Susah Saja?

Hidup ini berputar. Kadang bahagia, kadang berduka. Kadang di bawah kadang di atas. Dalam menghadapi dua dimensi hidup ini, manusia memiliki watak menjengkelkan. Saat lagi susah, manusia akan berusaha sekuat tenaga. Berdoa sebanyak-banyaknya. Bangun malam begitu istikamahnya. Namun, ketika sudah sukses dan bahagia, ibadahnya menjadi berkurang. Doanya tak lagi panjang.
Allah kemudian menegur manusia yang memiliki sifat seperti itu dalam banyak ayat. Diantaranya dalam surat Yunus. Allah berfirman,

وَإِذا مَسَّ الْإِنْسانَ الضُّرُّ دَعانا لِجَنْبِهِ أَوْ قاعِداً أَوْ قائِماً فَلَمَّا كَشَفْنا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنا إِلى ضُرٍّ مَسَّهُ كَذلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ ما كانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus [10]: 12)

Thursday, April 20, 2017

Ibu sudah Pergi, Buat Apa ke Luar Negeri?

Mata hari mulai meninggi. Terpaan panas mulai menyapa pipi. Kegiatan kuliah baru saja selesai. Mahasiswa keluar kelas. Ada yang ke kantin, ada yang ke masjid, ada yang ngobrol santai, dan seterusnya. Saya sendiri beranjak keluar. Mencari ‘angin’ melepas kebosanan.

Mata saya tertuju pada Bapak Dosen yang baru saja mengajar di kelas saya. Beliau sedang duduk-duduk di depan kelas. Di kursi panjang. Di kelas saya, Beliau mengajar hadis. Biasanya, saat beliau mengajar, kelas riuh. Karena yang dibahas masalah pernikahan. Ah, pertanda sudah dewasa semua.

Saya langsung menghampiri beliau. Sungkem. Lalu, duduk di samping beliau. Beliau menawari saya rokok. Saya bilang saya tidak merokok. Lalu, terjadilah obrolan di antara kami.

Tuesday, April 11, 2017

Berkawan untuk Mengukur Kehebatan

Saat sendiri, kadang saya merasa begitu hebat. Sudah bisa gini, sudah bisa gitu. Apa lagi dalam masalah tulis-menulis. Rasanya saya sudah hebat. Sudah menjadi penulis. Tulisan sudah masuk media. Tulisan sudah dikatakan bagus oleh orang lain. Pokoknya, saya sudah menjadi penulis deh.

Ternyata, saya merasa begitu karena saya hanya sendirian. Hanya tinggal di ‘kamar’ sendiri. Tidak jalan-jalan ke ‘kamar’ orang lain.

Saya menyadari hal itu kemarin. Saat penilaian tugas di FLP. Saya tidak menjadi yang terbaik. Bahkan saya tidak masuk tiga terbaik setelah yang terbaik. Entah saya nomer berapa. Nama saya tidak dibaca. Eh, ternyata saya belum apa-apa. Menjadi terbaik dalam tugas Pramuda FLP saja tidak bisa.

Friday, April 7, 2017

Ngaji Arbain Nawawi: Menasihati bukan Mencaci

« الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ »

“Agama adalah nasihat” Kita (para sahabat) bertanya, “Bagi siapa?” Rasulullah menjawab, “Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para Imam dan orang-orang awam.” (HR. Imam Muslim)

Dalam hadis di atas dijelaskan bahwaa agama Islam adalah nasihat. Yang dimaksud nasihat dalam hadis di atas adalah memberikan pendapat dengan tulus dan tidak menipu untuk kebaikan orang lain. Gampangnya, nasihat adalah memberi arahan untuk kebaikan orang lain.

Nasihat yang pertama bagi Allah. Maksudnya? Beriman kepada-Nya, tidak menyekutukan-Nya, menyucikan-Nya dari semua sifat kekurangan, mengerjakan perintah-Nya, menjauhi larangannya, dan seterusnya.

Sunday, April 2, 2017

Masjid Jami Peneleh: Jejak Dakwah Raden Rahmat yang Hilang


Judul Aetikel               : Masjid Jami Peneleh: Dakwah Raden Rahmat yang Melebur
Penulis                         : Aferu Fajar
Penerbit                       : FLP Surabaya
Judul Buku                  : Prejengane Kutho Suroboyo
Tanggal Terbit             : Cetakan pertama/ Desember 2015
No Halaman                : 142
Tema                           : Sosial Budaya

Mendengar nama Raden Rahmat, pasti pikiran kita langsung tertuju ke makam Sunan Ampel. Selama ini yang kita tahu, Ampel adalah bukti dakwah Islamiyah Sunan Ampel di Nusantara. Terlebih masjid Jami Ampel yang begitu megah. Namun ternyata, Ampel bukanlah satu-satunya peninggalan Raden Rammat. Di tempat lain, ada juga peninggalan Raden Rahmat yang tak kalah bersejarahnya.

Salah satunya adalah Masjid Jami’ Peneleh. Masjid ini berdiri di tengah pemukiman padat penduduk, tepatnya terletak di Jalan Peneleh V nomor 41, Surabaya. Data ini, bisa kita baca dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Aferu Fajar.
saif. Powered by Blogger.

FollowMe

Comments