Saturday, July 15, 2017

Resensi Novel “Bidadari Bermata Bening” Karya HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY


Judul                                  : Bidadari Bermata Bening
Penulis                              : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit                           : Republika
Tahun Terbit                  : Cet. IV Mei 2017
Jumlah Halaman          : 337
ISBN                                   : 9786020822648







Mas Dwy Sadoellah, Guru saya di Pesantren pernah memberi taujihat, “Seringkali orang besar itu dilahirkan dari kesederhanaan”. Saya temukan dawuh beliau itu dalam novel ini. Pada waktu yang lain, beliau berpesan, “Tirakat terampuh untuk mendapatkan istri sholehah dan anak sholeh adalah menjaga kesucian diri mulai sekarang”. Lagi-lagi, saya rasakan tirakat itu dalam novel ini.
***

Wednesday, July 12, 2017

Tiga Wasiat Masyaikh untuk Alumni Sidogiri

@sidogiri
Pada suatu kesempatan, KH. Fuad Nurhasan, anggota Majlis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri memberi taujihat kepada para alumni. Beliau menyampaikan tiga dawuh dari tiga kiai Pondok Pesantren Sidogiri. Tiga wasiat itu sebagai berikut:

Pertama, beliau menyampaikan dawuhnya KH. Cholil bin KH. Nawawi. Kiai Cholil pernah mengatakan kurang lebih begini, “Saya senang, jika santri Sidogiri ketika sudah boyong mengajar di rumahnya.”

Kiai Cholil mengharap agar santri Sidogiri tidak terlepas dari mengajar. Bekerja apa pun tetap mengajar. Misalnya, ketika pagi bekerja, maka sore harinya disempatkan mengajar. Mengajar tidak harus memiliki pondok atau madrasah. Mengajar bisa di madrasah desa dia tinggal.

Belajar-Mengajar memang thoriqohnya para masyaikh Sidogiri. Semua masyaikh senang mengajar. Kiai Cholil bin Kiai Nawawi meskipun sakit tetap mengajar. Bahkan, saat ngaji (mengajar kitab kuning) di surau, sakit beliau tidak tampak. Beliau kelihatan sehat dan segar. Hal itu saking senangnya Kiai Cholil mengajar.

Alumni Sidogiri tidak boleh malu belajar. Meskipun menjadi kiai, tetap belajar. Tetap mengaji. Apa lagi sekarang sudah ada pengajian kitab yang dikordinir oleh IASS. Meskipun menjadi kiai tetap ngaji. Ngaji ada dua. Ada yang ta’alluman (karena ingin mendapat ilmu). Ada yang tabarrukan (karena ingin mendapat berkah).

Karenanya, para ulama terdahulu tetap ngaji meskipun sudah bisa. Tujuannya karena ingin mendapat berkah. Contohnya, seperti KH. Abdullah Sachal. Dulu. ketika mondok di Sidogiri, beliau tetap mengaji kitab Jurmiah pada Kiai Cholil. Meskipun kitab itu hatam berkali-kali. Setelah kitab itu hatam dimaknai, Kiai Abdullah membeli kitab lagi dan memaknai lagi, sampai hatam lagi. Sehingga Kiai Abdullah memiliki banyak kitab Jurmiah yang dipenuhi dengan makna. Bukan beliau tidak tahu dan tidak faham pada isi jurmiah, tapi beliau ingin mendapat berkah dari Kiai Cholil bin Kiai Nawawi.

Kedua, KH. Fuad Nurhasan menyampaikan dawuhnya Kiai Hasani bin Kiai Nawawi. Kiai Hasani dawuh, “Saya senang, santri Sidogiri ketika boyong ilmunya diamalkan.” Tentu, mengajar harus dibarengi dengan mengamalkan. Mengamalkan ilmu tidak harus yang tinggi-tinggi. Mengamalkan Kitab Sullam sudah luar biasa.

Namun, apa bila mengajar tapi tidak dibarengi dengan amal, maka tergolong firman Allah berikut ini: Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah [02]: 44)

Ketiga, KH. Fuad bin Nurhasan menyampaikan dawuhnya Kiai Ahmad Sa’dullah bin KH. Nawawi. Kiai Sa’dullah pernah dawuh kurang lebih, “Saya ingin santri Sidogiri menjadi yang bermacam-macam. Ada yang menjadi tentara, ada yang menjadi polisi.”

Jadi, santri Sidogiri tidak harus jadi kiai, tidak harus jadi ustadz. Santri Sidogiri silahkan menjadi apa saja. Yang penting bermenfaat. Sebab, yang menjadi acuan adalah bukan profesinya, tapi anfa’nya (lebih menfaatnya) kepada masyarakat. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Paling baiknya seseorang adalah orang yang paling bermenfaat untuk orang lain.”

Bermacam-macam itu itu indah. Berwarna-warni itu indah. Ada yang merah, hitam, biru, dan seterusnya. Itu indah. Jika hanya satu warna, kurang indah. Maka, santri Sidogiri jadilah yang bervariasi. Agar lebih bermenfaat. Misalnya menjadi kiai kurang bermenfaat karena sudah ada kiai, carilah profesi yang lain. Bahkan menjadi Hansip pun tidak masalah. Asal memang menjadi hansip itu lebih bermenfaat.

Meski demikian, tidak meninggalkan taallum dan ta’lim (belajar-mengajar). Silahkan jadi apa saja, tapi belajar dan mengajarnya jangan ditinggalkan. Misalnya, menjadi polisi, setelah tugasnya selesai, bisa diisi dengan mengajar. Keren bukan? Ada polisi mulang ngaji. Keren.



*Disarikan dari taujihat yang disampaikan oleh KH. Fuad Nurhasan bin KH. Nawawi pada acara haul masyaikh Sidogiri yang diselenggarakan oleh PW IASS Surabaya, Selasa malam Rabu (11 Syawal 1438 H), di depan Masjid Al-Muslimin, Jl. Dukuh Bulak Banteng Gg. Perintis, Surabaya.

Monday, June 12, 2017

Agama Bisa Dijalankan Jika Aman dan Tentram

Indonesia memang tidak berdasar agama, tapi Pancasila tidak bertentangan dengan agama.

Indonesia memang tidak memakai hukum syariat, tapi umat Islam bebas menjalankan syariat.

Sungguh, itu nikmat dari yang sang pemberi rahmat.

Idealnya, sebuah negara memang berasas Islam. Sebagaimana Madinah yang dibangun Rasulullah.

Kalau lihat sejarah, ulama Indonesia pernah mencoba untuk menjadikan Islam sebagai asas. Syariat menjadi undang-undang negara. Tujuh kata dalam Pancasila itu buktinya. Tapi, tujuh kata itu dibuang karena non muslim tidak setuju.

Ulama mengalah, tapi bukan kalah. Sebab ada maslahah rajihah. Maslahah itu pun bisa dirasakan generasi selanjutnya. Indonesia bersatu, aman tanpa perang. Para Da'i pun bebas berdakwah ke daerah minoritas muslim. Seperti Papua dan seterusnya.

Benarlah, kata seseorang, yang penting aman dulu. Sebab, kalau tidak aman, bagaimana agama bisa dijalankan?

Kata KH. Marzuqi Mustamar, Pancasila sudah terbukti bisa membuat tentram. Ajaran dan amaliah bebas dijalankan.

Kata Habib Ali Al-Jufri, Al-Insaniyah Qobla at-Tadayyun. Kemanusiaan sebelum Beragama. Ingat ya, bukan 'agama' tapi 'beragama'.

Pendapatnya itu beliau landaskan pada sebuah hadis Imam Ahmad. Dalam hadis itu, ketika Rasulullah ditanya tentang risalah, beliau menjawab: engkau harus silatuurahim, tidak mengalirkan darah, mengamankan jalan, berhala diribohkan, Allah yang Mahaesa dituhankan.

Dalam hadis di atas, pertama kali yang disebut adalah silaturrahim. Hubungan keluarga. Ini diartikan aman dalam masyarakat.

Kedua, Rasulullah menyebut 'tidak boleh mebgalirkan darah'. Ini diartikan amannya kehidupan.

Ketiga, Rasulullah menyebut 'mengamankan jalan'. Ini diartikan aman secara umum.

Baru setelah itu, Rasulullah menyebut 'berhala dihancurkan' dan 'menyembah Allah dan tidak menyekutukannya'.

Artinya, aman dahulu kalau memang ingin agama bisa dijalankan.

Meski demikian, Pancasila tetaplah bukan agama dan tidak menggantikan agama. Islam tetap harus didakwahkan dan diperjuangkan. Sampai meneguk kejayaan.

Sunday, June 4, 2017

Islam Bukan Warisan

Islam itu anugerah. Nikmat terindah. Islam tidak semua orang merasakan. Islam hanya didapat oleh orang pilihan.
Karena Islam itu nikmat, kita wajib mensyukurinya. Ulama mengajarkannya kepada kita.

Alhamdulillh Ala Nikmatil Iman Wal Islam. Alhamdulillah atas nikmat iman dan islam.
Islam bukan warisan. Karena andai warisan, setiap anak muslim pasti muslim. Setiap anak kafir pasti kafir.

Faktanya tidak demikian. Banyak anak muslim yang jadi kafir. Banyak anak kafir jadi muslim. Anaknya Nabi Nuh saja kafir kok.
Islam bukan warisan. Karena kalau warisan, anak orang kafir yang mati saat kecil pati masuk neraka.

Kenyataannya tidak seperti itu. Anak orang kafir yang mati saat kecil, ada ulama yang mengatakan mereka masuk surga. Kata Rasulullah, seorang anak lahir dalam keadaan fitrah, suci. Selanjutnya, sekitarnyalah yang merubahnya.

Saturday, June 3, 2017

Karena Abu Lahab Pernah Bahagia

Siapa yang tidak tahu Abu Lahab? Dia paman Rasulullah saw., tapi justru tercatat sebagai orang yang sangat membenci Rasulullah. Sampai-sampai dia tega menyakiti Rasulullah saw.. Allah mengutuk Abu Lahab. Turunlah surat Tabbat. Pertanda Abu Lahab orang celaka. Neraka adalah calon rumah abadinya.

Jauh sebelumnya, Abu Lahab tidak seperti itu. Abu Lahab sosok yang menyayangi Muhammad kecil. Diceritakan, ketika budaknya yang bernama Tsuwaibah mengabarkan Nabi Muhammad lahir, Abu Lahab sangat bahagia. Kebahagiaan begitu tampak dari perilakunya. Saking bahagianya, Abu Lahab rela memerdekakan Tsuwaibah.

Setahun setelah Abu Lahab meninggal, Sayyidina ‘Abbas bermimpi. Abu Lahab disiksa. Siksaan begitu dahsyatnya. “Aku tak pernah merasakan nyaman selain hari Senin.

Jika Beriman, Updatelah Status yang Bermenfaat !


عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: " من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه " رواه البخاري ومسلم " .

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik atau diam saja. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya!” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Dalam hadis di atas, Rasulullah saw. berbicara mengenai tiga hal. Tiga hal ini sangat penting dilaksanakan oleh segenap msulim. Sebab, tiga hal ini menjadi tolak ukur keimanan kita kepada Allah dan hari kiamat. Jadi, belum bisa dikatakan beriman dengan sempurna, orang yang tidak melaksanakan tiga perkara ini. Tiga hal tersebut sebagai berikut:

Sunday, May 28, 2017

Niza Nurmalasari Berbagi Inspirasi Hijrah

Kanan, Niza Nurmalasari
FLP Surabaya memiliki tiga pilar; keislaman, kepenulisan, dan kedisiplinan. Karenanya, FLP Surabaya tidak hanya memiliki agenda belajar tulis-menulis, tapi juga acara keislaman. Seminar misalnya. Islami memang cirikhas FLP secara umum. Dalam slogan yang biasa dikumandangkan anggota FLP adalah dakwah bil qolam. Dakwah dengan pena.

Kali ini, FLP mengadakan acara keislaman “Main Ke Masjid”, Minggu (29/05/17). Acara ini bentuk sinergi antar gerakan dakwah, seperti RISMA, PANKMUSLIM, One Day One Juz, dan seterusnya. Tujuan acara yang berlokasi di Masjid Al-Falah Surabaya ini adalah untuk mendekatkan anak muda pada masjid. Sebab, selama ini, masjid terkesan hanya dipenuhi orang yang sudah tua-tua. Anak mudanya tidak. Padahal, pada zaman Rasulullah, masjid menjadi tempat berbagai pergerakan untuk semua lapisan. Termasuk bagi anak muda.
saif. Powered by Blogger.

FollowMe

Comments