Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah | KELAHIRAN AL-BUSHIRI
Hari itu merupakan hari yang sangat
bersejarah bagi Said. Hatinya berbunga-bunga. Tampak di wajahnya kebahagiaan
dan keceriaan. Janin yang selama ini dinanti-nanti, kini lahir menghiasi
suasana. Tangisan bayi mungil itu semakin membuat hati terhibur. Ia diberi nama
Muhammad. Kelak, Muhammad masyhur dengan sebutan al-Bushiri. Nama lengkapnya
adalah Muhammad bin Said bin Hammad Addallâshi Ash-shanhâji asy-Syâdzili
al-Bushiri (selanjutnya ditulis al-Bushiri). Bergelar Syarafuddin
(kemuliaan Agama) dan berkunyah Abu Abdillah.
Al-Bushiri lahir pada hari Selasa awal
Sya’ban pada tahun 608 H. bertepatan dengan tanggal 07 Maret 1213 M. Ia lahir di desa Dallash,
salah satu desa Bani Suef yang termasuk bagian wilayah Mesir. Namun, beliau
tumbuh besar di desa Bushir, dekat Dallash. Hal itu bisa dimaklumi. Sebab, Said
ayah al-Bushiri, berasal dari Dallash sedangkan ibunya dari Bushir. Maka tak
heran jika di kemudian hari al-Bushiri
juga dijuluki ad-Dalashiri (gabungan Dalash dan Bushir). Kalau diteliti
lebih lanjut al-Bushiri termasuk keturunan Kabilah Sanhaj etnis Barbar yang
tinggal di negara Maroko paling selatan.
Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah | MASA BELAJAR
Di awal pertumbuhnnya, al-Bushiri menempuh
pendidikan di rumah. Ia memulai kegiatan belajarnya dengan menghafal al-Qur'an.
al-Bushiri sangat antusias dan giat sekali. Sehigga, di umur yang masih belia,
ia sudah hafal al-Qur'an.
Kemudian, al-Bushiri hijrah ke Kairo. Di
sana ia menimba berbagai macam ilmu agama, tata bahasa, sastra dan sejarah. Ia
juga belajar kepada banyak ulama terkenal kala itu. Di antaranya, Syekh Ali bin
Ahmad bin Abi Bakar, Syekh Umar bin Syeikh Isa, Syekh Jamaluddin bin Yusuf bin
Ismail al-Anbali, Syekh Izzudin Abu Umar Abd. Aziz bin Badruddin al-Makruf bin
Ibn Jamaah, Syekh Attaqi ibn Hatim, Syekh Ibrahim bin Ahmad bin Abd. Wahid
at-Tanwahki al-Burhan al-Syami, Syekh Abu Fadlu al-Iraqi, Syekh Ahmad bin Ali
bin Muhammad (Ibn Hajar al-Asqolani), Syekh Abul Abbas Al-mursi, dan yang
lainnya.
Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah | WALI BERTAREKAT SYADZILI
Beliau adalah salah satu wali
Allah I, guru orang-orang yang meniti jalan Ilahi,
memiliki makrifat rabbânî dan mawâhib as-Samadâni. Beliau juga orang istimewa yang selalu berkumpul dengan Rasulullah r dalam tidur maupun terjaga, orang yang memiliki
gelar Syarafuddin (kemulyaan agama).
Al-Bushiri dalam ilmu tasawuf dan meniti jalan
menuju hadhratil-Lâh berguru kepada Sayyid Abul Abbas al-Mursi, pemegang
matarantai tarekat Syadziliyah pasca wafatnya Syekh Abul Hasan Ali
asy-Syadzili. Ajaran tasawuf yang diberikan Syekh Abul-Abbas al-Mursi begitu berkesan dan memberikan pengaruh besar
dalam pandangan hidup al-Bushiri. Tak'
mengherankan jika al-Bushiri tertulis sebagai salah satu tokoh terkemuka dalam
tarekat Syadziliyah.
Mengenai perjalanan tasawuf al-Bushiri, Dr. Su’ad
Mahir berkata, “Mulanya al-Bushiri mengajar menulis pada beberapa kelompok di
daerah Bilbis. Kemudian beliau meningggalkan tugas-tugas pemerintahan dan
kesengangan dunia, lalu menyendiri dalam kehidupan tasawuf dan menghabiskan
waktunya untuk beribadah. Setelah itu ia pergi ke Iskandariyah untuk menjadi
murid Al-Quthb Abul Abbas Al Mursi".
Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah | DUA SAHABAT PELOPOR DUNIA
Ketika
al-Bushiri berguru kepada Sayyid Abul Abbas al-Mursi, beliau memiliki banyak
teman seperguruan, di antaranya adalah Syekh Ibnu Athaillah al-Iskandar. Meski
sama-sama memiliki karya dalam bentuk prosa dan puisi, tapi dalam pandangan
masyarakat kedua tokoh ini memiliki keistimewaan berbeda. Syaikh Ibnu Athaillah
terkenal mahir dalam karya prosanya,
sedangkan Imam al-Busiri terkenal pandai dalam bentuk syi’irnya.
Dua
santri Sayyid Abul Abbas al-Mursi ini, meski pernah hidup seperiode tapi
selisih tahun kewafatannya relative jauh. Imam al-Bushiri wafat pada tahun 694
H., sedangkan pengarang Syekh Ibnu Athaillah wafat pada tahun 707 H.
Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah | WALI YANG SENIMAN
Meski
al-Bushiri termasuk dalam jajaran para wali, beliau juga dikenal sebagai
penyair. Dalam hal syi’ir, siapapun mengakui keahliannya. Puisi-puisi beliau
sangat indah dan mempesona serta memiliki makna yang agung. Kata-katanya
mengalir, susunan lafalnya rapi dan alur kata apik serta elok.
Beliau
juga sangat arif menyusun badî’ dan
bayân dalam bait-bait syi’irnya. Bisa dikata, beliau di antara penyair
nomor wahid hingga sekarang. Tidak ada satupun penyair yang mampu mengalahkan
karangan beliau, lebih-lebih Kasidah Burdahnya. Tak heran jika syair beliau
menjadi acuan utama bagi para penyair berikutnya.
Selain
cakap dalam menulis puisi, al-Bushiri juga pandai dalam kaligrafi. Tulisan
beliau sangat indah. Bentuknya menyilaukan mata; menggambarkan betapa pandainya
beliau meliuk-liukkan tangannya. Karena kepandaiannya itu, banyak orang yang
ingin belajar khât kepadanya. Sehingga, dalam seminggu orang yang
belajar kepada beliau lebih dari 1000 orang. Konon, beliau belajar tehnis dan
kaidah kaligrafi ini kepada Syekh Ibrahim bin Abi Abdullah al-Misri, salah satu
khattât Mesir yang sangat mashur kala itu.
Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah | PECINTA BAGINDA NABI r
Al-Bushiri memang tidak pernah memperoklamirkan diri
sebgai pecinta Rasulullah r. Namun, kecintaan beliau begitu tampak dari pekertinya. Memang, sedalam
apapun perasaan cinta itu dikubur, serapat apapun cinta itu ditutupi, pasti
akan terungkap. Rasa cinta bagaikan batuk. Sulit sekali bagai orang batuk
meyembunyikan batuknya.
Kecintaan al-Bushiri bisa dilihat dari hobinya.
Beliau sangat hobi membaca sejarah dan perjalanan hidup Baginda Nabi Muhammad r. Rasa cinta
itu menggebu-gebu seakan tak mampu lagi mengendap dalam hati terlalu lama.
Kemudian, rasa cinta itu tertuang dalam bait-bait puisi. Pujian al-Bushiri
kepada Nabi r berserakan dalam bait-bait syairnya. Al-Busiri berkata dalam Kasidah
Hamziyahnya,
Bagaimana mungkin
para nabi
menggapai darajatmu
Wahai langit yang
tak ada langit lagi di atasnya
Engkau lentera
keutamman
Cahaya-cahaya
lahir dari cahayamu.
Namun yang menjadi puncak dari keindahan sastra
dalam memuji sang Baginda r adalah Kasidah Burdah karya menumentalnya. Sehingga, beliau dijuluki Sayyidul-Madah,Pemimpin para
pemuji Rasulullah r.
Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah | KRISTOLOG
YANG SEKALIGUS TEOLOG
Al-Bushiri juga seorang
kristolog. Beliau banyak membaca Taurat, Injil, dan karya-karya yang ditulis
oleh orang-orang Nasrani-Yahudi. Dengan keahlian ini, Imam al-Bushiri senantiasa tampil dalam polemik dan perdebatan melawan
orang-orang Nasrani-Yahudi. Konon, al Bushiri telah menulis kitab al-Mukhraj wal Mardâd `alan-Nashârâ wal-Yahûd yang pernah disebarka oleh Ahmad Fahmi Muhammad di Kairo pada tahun
1372 H./1953 M. Karangan ini berisi kritikan-kritikan terhadap keyakinan agama Yahudi-Nasrani. Beliau
juga pernah
menulis kitab yang berjudul Tahzdibul alfahd al-Amyah,
dan kitab ini juga pernah di cetak di Kairo. Oleh karena
itu, Ibnu Hajar al-Haitami sempat menyebut al-Bushiri sebagai keajaiban Allah I dalam
sajak-prosa-Nya.
Meski demikian, keahlian al-Bushiri dalam
karya-karya prosanya masih diragukan karena memang jarang sekali karya-karya
prosanya muncul. Beda halnya dengan keahliannya di bidang sajak. Dalam bidang ini, tidak ada satu orang pun yang meragukan kemampuan al-Bushiri.
Selain menjadi keristolog, al-Bushiri juga
tidak segan mengkritik aliran-aliran di luar Ahlusunah Waljamaah. Beliau
menolak keras paham Syi'ah Rafidah, kelompok yang benci sahabat selain dari
keluarga Sayyidina Ali t. Beliau
juga sangat menentang paham nashb, kelompok yang membenci Sayyidina Ali.
Beliau berpendapat, perselisihan yang terjadi antara Sayyidina Ali t dan
Muawiyah t lahir dari
perbedaan ijtihad. Dan itu tidak menjadikan mereka legal dibenci apa lagi
dicaci maki.
Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah | KRITUKUS PEMERINTAH
Sebelum
al-Bushiri mendalami tasawuf, beliau tergolong orang yang dekat dengan
pemerintah. Beliau memiliki posisi strategis di hati dinasti Mamluk. Sehingga,
di antara puisi al-Bushiri ada yang lahir memuji mereka dan memojokkan
musuh-musuhnya. Beliau juga pernah menduduki berbagai jabatan pemerintahan di
Kairo maupun di daerah lain, bahkan beliau pernah menjabat sebagai Waliyul-Hisbah
(semacam pengawas).
Namun,
ada yang janggal di hati al-Bushiri. Akhlak pegawai yang begitu bobrok membuat beliau mengernyitkan dahi. Beliau
tidak suka melihat kelakuan mereka yang mengambil harta negara. Kelakuan mereka
yang korup menyisakan perasaan marah di hati al-Bushiri. Sehingga menimbulkan
perdebatan hebat antara beliau dan pegawai-pegawai kurang ajar itu.
Sebagai
penyair hebat, al-Bushiri mengkritik habis kelakuan pegawai itu lewat sajak
puisi. Memang, puisi dianggap ampuh untuk mengingatkan pemerintah yang tak
loyal kepada masayarakat atau menyalahi aturan dan norma. Bahkan, sampai
sekarang pun, puisi menjadi alternatif untuk mengkritik kebijakan pemerintah
yang dapat merugikan publik. Dalam puisinya itu, al-Bushiri mengungkit
kesalahan mereka, membeberkan pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukan.
Diantara kutipan sairnya,
Ku
pandang pegawai-pegawai itu
Namun,
tak satupun yang dapat dipercaya
Aku telah bergaul
dan berkumkpul
bersama mereka
sampai beberapa tahun
Betapa
banyak penghasilan telah mereka curi
seperti
ketika mencuri dari mata kita
dan
kita tidak tahu
Andaikan tidak
begitu
Manamungkin mereka
memakai sutra dan minum arak Andarina
Setelah kejadian itu, al-Bushiri meninggalkan
semua jabatannya dan berkonsentrasi pada perjalanan tasawufnya. Beliau pergi ke
Iskandariyah untuk berguru kepada Sayyid
Abul Abbas al-Mursi. Beliau tinggal di Iskandariyah sampai ajal menjemput.
Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah | DICINTAI MASYARAKAT
Sebagai
tokoh sufi, Imam al-Bushiri memiliki kesan mendalam di hati masyarakat. Beliau
sangat dicintai dan dihormati. Hal itu tampak ketika mereka menjumpai
al-Bushiri di jalan. Mereka berbondong-bondong menghampiri beliau dan menciumi
tangannya. Bukan hanya orang tua, anak kecilpun tidak ketinggalan untuk meraih
tangan al-Bushiri. Hal sedemikian tidaklah mengherankan. Sebab, beliau sangat
arif dalam bergaul dan menjaga tatakrama. Beliau tidak lupa menyemprotkan
farfum yang sangat wangi ke badannya, wajahnya berseri-seri, murah senyum,
sangat ramah ketika bertemu orang lain, tawaduk, dan zuhud.
Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah | LAHIRNYA KASIDAH BURDAH
Dibanding karya-karya yang lain,
Kasidah Burdah merupakan karya al-Bushiri yang
paling fenomenal. Sangat banyak karya-karya
al-Bushiri yang mengangkat tema sanjungan untuk Rasulullah r, tapi hanya Burdah yang sangat terkenal di kalangan masyarakat. Burdah
dibaca oleh sekian ribu orang di seluruh dunia, di masjid, surau, lapangan,
acara maulid dll. Burdah seakan bacaan wajib apalagi bagi pesantren. Bisa
dikata, di setiap pesantren diadakan kegiatan khusus untuk membaca Burdah. Semua itu menunjukkan betapa agung
syair yang berisi sanjung madah itu. Dan betapa agung pula pengarangnya.
Tentunya, bukan kebetulan
Kasidah Burdah memiliki keistimewaan luar biasa. Bukan juga
karena sajak-sajaknya yang indah, kepandaian pengarangnya
dalam menyusun kata, tapi dikarnakan Kasidah Burdah lahir dari hati yang
bersih, orang yang dekat dengan Baginda Nabi r serta mendapat rida dari beliau e. Al-Bushiri pernah ber cerita mengenai awal mula kelahiran Burdah dan
tersebarnya di Masyarakat.
“Aku pernah mengarang beberapa
Kasidah sanjungan kepada Rasulullah r, di antaranya karna mendapat usulan dari Zainuddin Ya’qub az-Zubair. Di tengah-tengah aku akan merampungkannya, separuh tubuhku mengalami kelumpuhan total (As-Syalâl
an-Nishfi). Aku tertegun memikirkan nasib kasidahku
itu. Lalu aku berdoa, bertawassul dan meminta pertolongan kepada Allah
I agar menyembuhkan
penyakitku.
Tiba-tiba aku mengantuk dan tertidur. Dalam tidurku, aku melihat
Rasulullah r mendatangiku.
Beliau mengusap tubuhku yang terkena penyakit dengan tangan
mulianya. Lalu beliau r memberikan
sehelai selendang (burdah)
kepadaku. Seketika aku terbangun.
Aku mendapati tubuhku sudah sembuh. Dan aku bisa berdiri lagi. Maka aku
berjalan keluar rumah. Tiba-tiba, ada orang fakir mendatangiku.
Ia berkata, ”Aku
ingin engkau berkenan untuk memberikan Kasidah sanjung-madahmu kepadaku”
Aku sedikit heran, kok bisa orang fakir itu tahu tentang Kasidahku, padahal aku
belum memberitahukan kepada siapapun. “Kasidah apa?” Tanyaku memperjelas maksudnya. “Aku mendengar tadi malam Kasidah itu
dibaca di hadapan Rasulullah r. Beliau
r tampak terkagum-kagum mendengarnya. Kemudian Beliau r memberikan
sehelai selendang
(burdah) kepada orang yang membacakan Kasidah itu.” Jawab orang fakir.
Akhirnya,
aku penuhi permintaan si fakir. Aku berikan Kasidahku kepadanya. Ternyata, Kasidah itu tidak hanya untuk dirinya, tapi juga
disebar-luaskan sehingga cerita Kasidah yang membuatku sembuh itu terdengar
oleh Bahauddin. Bahauddin pun mengutus seseorang kepadaku untuk meminta Kasidah
ini. Dia bersumpah tidak akan menyentuhnya kecuali dalam posisi berdiri tanpa
alas kaki dan penutup kepala. Dia dan keluarganya tercatat sebagai pecinta
Burdah."
Kisah di atas menggambarkan awal
perjalanan Burdah menjadi karya yang masyhur
dan tersohor. Bukan hanya faktor keindahan bahasa atau kepandaian penulisnya membuat badî’ dan bayân, namun ada
faktor keajaiban supernatural di dalamnya. Oleh karena itu, di kalangan sufi
atau masyarakat yang terpengaruh oleh pola pandangan sufistik, Burdah ini
seringkali dibaca sebagai sarana tawasul untuk memohon kepada Allah I agar
hajatnya dikabulkan.
Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah | DIANTARA HASIAT BURDAH
Suatu ketika, Sa’duddin al-Fariqi, Petugas
Pengesahan Surat (stempel) menderita sakit mata yang sangat parah,
sehingga hampir mencapai kebutaan. Suatu malam, dia bermimpi seseorang yang menyuruhnya agar mendatangi Bahauddin.
Tanpa fikir panjang dia langsung bergegas menemui Bahauddin dan menceritakan
mimipi itu. Mendengar penuturan Sa’duddin, Bahauddin berkata “Aku tidak
memiliki selendang peninggalan Rasulullah r” Lalu,
Bahauddin diam sejenak. Fikirannya ingat sesuatau. “Mungkin yang dimaksud mimpi
itu adalah Kasidah Burdah milik al-Bushiri” Tukas Bahauddin. “Hai Yaqut…
(pembantunya) bukalah peti tempat penyimpanan Kasidah.” Lantas, Yaqut
mengeluarkannya dan membawakanya kepada Bahauddin. Melihat Kasidah Burdah itu,
Sa’duddin al-Fariqi sangat bahagia. Lalu dia mengambilnya dan meletakkannya di
Mata yang sakit. Subhanal-Lâh, seketika itu mata Sa’duddin langsung
sembuh.
Dalam kisah lain disebutkan, suatu ketika Hadramaut, Yaman tertimpa
paceklik hayawan buas pun keluar dari sarangnya berkeliaran di jalan-jalan. Melihat fenomena
menakutkan itu, Habib Abdurrahman memerintahkan kepada semua masyarakat agar
setiap rumah dibacakan Burdah. Dengan izin Allah I hewan buas itu tidak
mengganggu rumah masyarakat sama sekali.
Selain di atas, Kasidah Burdah juga bisa diamalkan
untuk terkabulnya hajat. Habib Salim mengatakan bahwa Burdah ini sangat mujarab untuk mengabulkan
hajat-hajat kita dengan izin Allah I. Namun, terdapat syarat-syarat yang harus
dipenuhi, yaitu mempunyai sanad sampai kepada Imam al-Bushiri, mengulangi bait
‘maula ya shalli wa sallim…’, berwudu, menghadap kiblat, memahami makna
bait-baitnya, dibaca dengan himmah yang besar, beradab, dan memakai
wewangian.
Konon, Presiden Chechya, Aslan Mashkadov pernah berkata bahwa pasukannya
tidak lebih dari 4000 orang ketika perang melawan Rusia. Hanya 837 Mujahidin saja
yang ditempatkan di Grozny,
ibu kota Chechya. Padahal
tentara Rusia yang mengepung Grozny berjumlah 12,000. Sebelum Mujahidin
berangkat menuju medan perang, mereka duduk melingkar sambil membaca Kasidah
Burdah. Mereka mengalunkannya serempak dengan keras. Setelah selesai membaca
Burdah, mereka membaca salawat kepada Nabi r, lalu berzikir.
Setelah selesai, mereka mengangkat senjata dan maju kemedan tempur. Alhamdulil-Lâh,
dengan pertolonga Allah I mereka bisa menumpas pasukan
Rusia, padahal jumlah mereka sangat sedikit sekali dibanding tentara Rusia.
Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah | SYÂRIH AL-BURDAH
Di kalangan ulama, sangat banyak
yang mensyarahinya. Demikian ini menjadi bukti bahwa mereka sangat mengagumi
dan menyukainya. Di antaranya, Syekh Ali al-Busthami, Syekh Muhammad bin
muhammad al-Ghazzy, Syekh Muhammad Syekh Zadah, Syekh al-Qadhi Bahar al-Haruni,
Syekh Muhammad Ya’qub al Fanari, Syekh Ali al-Yazdi, Syekh Ibnu al-Sha’igh, Syekh Husain al- khawarizimi, Syekh
Ibnu Hisyam al-Nahwi, Syekh Khalid al-Azhari, Syekh Muhammad bin Ahmad
al-Mahalli as-Syafi’i, Syekh Khidhir al-Athofi, Syekh Thohir bin Hasan yang
terkenal dengan sebutan Ibnu Hubaib al-Halabi, Syekh Muhammad bin Marzuq
at-Talmasani, Syekh Al-Syihab al-Qisthilani, Syekh Zakariyya al-Anshari, Sykeh
Ibnu Hajar al-Makki, Syekh Abu al-Fadl al-Makki, Syekh Utsman al-Uryani, Syekh
Muhammad al-Jujari, dan lainnya dari kalangan ulama’.
Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah | WAFAT
Dunia
berkabut. Rintik-rintik air mata menghiasi pemandangan Kota Iskandar,
Mesir. Penyair hebat yang tak ada
tandingannya sepenjang sejarah itu menghembuskan nafas terakhir. Tepatnya pada
tahun 694 H. Beliau dimakamkan di Kota Iskandariyah Mesir.
Baca juga: Secarik Biografi Imam Nawawi
Makam al-Busiri
tampak sesak dipenuhi para peziyarah. Rahasia-rahasia di luar nalar dan cahaya
karamah tampak di pusaran ini. Orang-orang yang bertawassul meminta kepada
Allah I, pasti cepat terkabul.
Beliau
meninggalkan warisan berharga berupa karya tulis dalam bentuk puisi yang bisa
dijadikan acuan oleh generasi selanjutnya. Di antara karangan beliau yang
terkenal adalah al-Burdah, Kasidah Mudhâriyah fihs-Shâlati
`alal-Khairil-Bariyah, Kasidah al-Hamziyah, Kasidah al-Muhammadiyah,
dan Kasidah Lâmiyah yang berjudul al-Makhraj wal-Mardûd
alan-Nasârâwal-Yahûd.
Baca juga: Biografi Syaikh Qadi Abi Syuja’: Pengarang Kitab Taqrib
REFERENSI
· Thabaqâtusy-Syâdziliyah, Abi Ali al-Hasan bin Muhammad bin Qosim al-Kuhan al-Fasi al-Maghrobi (w
1247)
·
Hâsyiyatul-Bâjûrî `alâ Matnil-Burdah
· Syadzrâtuz-Zahab, Abdulhayyi bin Ahmad bin Muhammad al-Akri al-Hanbali
· Fawâtul-Wafyât, Muhammad bin
Syakir al-Kutbi
· Dîwânul-Islâm, Ibnul Ghazzi
· Al-Awhâm al-Wâqi’ah fî Asmâil-Ulamâ wal A’lâm, Mustafa bin Qahtan al-Habib
·
Târikhul-Mu'âradhât, Muhammad Mahmud Qasim
Naufel
· Dr. Syarif Muhammad Hamzah bin
Muhammad Ali al-Kattani al-Hasani al-Idrisi ; http://al7ewar.net/forum/showthread.php
PENULIS:
Ad. Saifuddin, Ihya' Ulumiddin
EDITOR:
Abdurrohim Arief, Muhairil Yusuf
TATA LETAK:
Abdurrohim Arief
PERWAJAHAN:
@mieffahmad
PENERBIT:
Istinbat Kuliah Syariah
*Tulisan "Biografi Al-Bushiri, Pengarang Burdah" ini diambil dari buku bonos Buletin Istinbat yang diterbitkan oleh Kuliyah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri dengan judul "Syaikh Muhammad Al-Bushiri Asy-Syadzili Wali Bersenandung Cinta".
Posting Komentar
Tinggalkan komentar anda....!