Seks Halal Bisa Dijadikan Alasan Utama Menikah

Catatan untuk Pernikahan Alvin Faiz dan Larissa Chou


Larissa-Chou-dan-M-Alvin1Akhir-akhir ini, sering kali foto Muhammad Alvin dan Larissa Chou nimbrung di beranda medsos saya. Awalnya, saya acuh. Sampai suatu ketika saya menemukan video di Youtobe tentang mua’llaf Larissa. Saya pun melihat-lihat video tentangnya. Yang saya tonton sampai selesai, video larissa yang menceritakan kenapa dia masuku Islam. lalu, perjuangannya memakai hijab. Di Video itu juga ada komentar Alvin. Juga, sahabat Larissa. Hanya sebatas itu yang saya ketahui tentang mereka berdua.

Pada suatu ketika, saya baca-baca esai. Dari situ saya tahu bahwa Muhammad Alvin Faiz dan Larissa adalah pasangan suami istri yang baru menikah. Tepatnya, tanggal 5 Agustus 2016 di masjjid Az-Zikra, Bogor. Namun, dalam esai yang sedang diikutkan lomba bertema ‘kemanusiaan’ itu ternyata mengkritik Alvin. Kenapa Alvin harus menikah sedini itu? Alvin masih berumu 17 tahun, sedangkan Larissa 19 tahun. Keritikannya antara lain, sex halal bukan alasan utama menikah, pernikahan Alvin dan Larissa tidak sesuai zaman, tidak sesuai maqasid syari’ah (tujuan syariah), membuka keran kemalaratan, dan lain sebagainya. Banyak banget keritikannya.

Tulisan ini bukan untuk mengkiritik Alvin. Tulisan ini hanya ungkapan hati dari seorang santri yang masih belum menikah pada umurnya yang ke 23 tahun. Sungguh, saya sangat kagum kepada Dek Alvin. Masih muda, dakwahnya sungguh luar biasa. Saya yakin pengetahuaannya juga tidak bisa diragukan. Buktinya, dia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Larissa yang pada waktu itu masih non muslim.

Saya support sekali kepada Dek Alvin yang memutuskan nikah muda. Saya yang berumur lebih tua darinya masih belum berani menikah. Entahlah apa yang saya takutkan. Mungkin masalah nafkah. Padahal, saya tahu masalah rizqi itu Allah yang mengatur.

Menurut saya, tujuan Dek Alvin menikah muda sungguh luar biasa. Menghindari fitnah. Dia mengatakan kurang-lebihnya begini, “Kita bisa melihat kejadian sekarang, anak muda banyak yang pacaran dan melakukan seks bebas untuk mencari kebahagiaan. Fitrah manusia memerlukan pasangan, baik hati maupun fisik. Nah, daripada melakukan yang dilarang agama, kenapa tidak menikah saja? Dalam Islam ada dua prinsip: tinggalkan atau halalkan."

Sayup-sayup saya teringat sebuh hadis. Hadis ini pernah saya baca dulu ketika belajar di Pesantren.

« يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ ».

Wahai anak-anak muda, siapa saja dari kalian yang mampu menikah maka menikahlah. Karena nikah itu lebih memejamkan mata dan lebih menjaga farji (kemaluan). Siapa yang tidak mampu (menikah) maka berpuasalah. Karena puasa akan menjadi taming baginya.” (HR. Imam Muslim)

Menurut Imam al-Ghazali hadis ini menunjukkan bahwa motivasi menikah adalah menjaga mata dan farji dari kerusakan. Berarti, tujuan Dek Alvin menikah dini sudah sesuai dengan anjuran Rasulullah. Sesuai dengan pendapat ulama salaf dan mu’tabar.

Tentu, juga tidak bertabrakan dengan Maqasid Syari’ah (tujuan-tujuan syariah). Sebagaimana maklum, dinatara tujuan diturunkan syariah Islam adalah hifdzu nasl (menjaga keturunan). Demi tercapainya tujuan ini, Allah mensyari’atkan nikah. Lagi-lagi, pernikahan Dek Alvin tidak bertentangan dengan Islam. Sebab, Dek Alvin menikah agar tidak terjerumus dalam perkara haram. Juga, demi terjaganya keturunan.

Ah, orang-orang yang mengkritik pernikahan dini tidak pernah memikirkan hal ini: menjaga keturunan. Terbukti, sana-sini hanya mengkritik pernikahan dini, tapi tidak pernah memikirkan hamil dini atau janda dini. Cobalah baca-baca, anak SMP berapa persen yang sudah tidak perawan? Anak SMA berapa persen yang sudah janda? Coba diangan-angan.

Anehnya, dalam esai yang say abaca tertulis begini, “Hemat saya, sejauh ini belum ada alasan yang mendesak bagi Dek Alvin untuk menikah sedini itu, toh juga Dek Larissa tidak hamil, sehingga tidak menuntut tanggung jawab lebih kepada Dek Alvin.” Seakan dia mengatakan, kalau belum hamil gak usah menikah. Kalau sudah hamil baru menikah. Pertanyaan saya, apakah yang menulis itu tidak akan menikah kecuali jika hamil atau menghamili? Bagi orang yang benar-benar menjalankan agama, jangankan hamil, melihat aurat saja sudah dianggap mengotori jiwa.

Akan tetapi, bukankah menikah dini menyebabkan kemelaratan? Bukankah Dek Alvin masih berkewajiban mencari ilmu?

Saya kira, kemalaratan hidup bukan hanya disebabkan pernikahan dini. Banyak juga orang-orang yang menikah tua juga melarat. Juga ada yang menikah tua saat melahirkan meninggal. Kemalaratan hidup tidak bisa menjadi alasan tidak menikah dini. Kemalaratan hidup hanya mafsadah yang mauhumah (meraba-raba). Sedangkan menikah dini yang karena takut terjerumus pada perakara haram itu maslahah muhaqqoqoh (nyata). Dalam kaidah fiqih dijelaskan, “Maslahah Muhaqqoqoh Muqaddamun Ala Mafsdah Mauhumah” (maslahah yang nyata lebih diutamakan dari pada mafsadah yang hanya meraba-raba).

Saya teringat teman saya. Dulu satu pesantren. Ketika duduk di kelas MTS (sederajat dengan SMP) dia berhenti mondok. Alasannya mau menikah. Alhamdulillah, kehidupannya sekarang layaknya orang yang menikah tua. Biasa-biasa saja. Kebutuhannya cukup. Tidak mati kelaparan. Juga, saya teringat sepupu saya. Perempuan. Dia menikah kalau bukan pada umur 15 tahun, 16 tahun. Alhamdulillah, anaknya sehat wal afiyat.

Menurut hemat saya, kalau kita sudah mampu menikah dan butuh menikah ya nikah. Setelah itu, kita serahkan kepada Allah. Dari pada mengahirkan nikah, tapi sering melakukan maksiat, apa mau masuk neraka? Nikah tua sih, tapi kalau kawin sudah sejak muda. Mau?

Selanjutnya, saya berharap banyak pada Dek Alvin dan Dek Larissa Chou. Tunjukkan pada dunia, pernikahan kalian akan membawa maslahah. Bermenfaat untuk diri kalian dan orang lain. Nasib pernikahan muda ada di tangan kalian. Kalian adalah acuannya. Terakhir, selamat menempuh hidup baru. Barokallahu lakuma wa baroka alaikuma.

#Salam Santri Jatim

1 Comments

Tinggalkan komentar anda....!

  1. Tapi, ada beberapa bagian (tidak semua) di esainya ada benarnya.
    ini bahaya sekali klo dijadikan role model buat adik2 kita yg usia nya msh 17 thn, sama seperti alvin, tapi ilmu nya tidak sebanyak dan tidak sebijak alvin.
    saya takutnya remaja2 pada ngebet nikah, hanya karna seks.
    padahal pernikahan yg hanya karna ingin seks halal saja itu justru menodai komitmen suci pernikahan.
    mungkin harus ada bimbingan lebih lanjut, kajian menyeluruh, biar adik2 kita paham gak cuma sepotong2 saja.
    Oiya, saya juga gak setuju dg kritik anda yg sifatnya personal ke penulis esai, yg mengatakan itu hanya curahan hati santri berusia 23 tahun yg belum menikah (blm laku).
    Sebaiknya, lain kali klo mau menyampaikan pendapat cukup konten pendapatnya saja yg dikritik.
    Orang nya (pribadi) nya jangan.
    Dewasalah dalam berbeda pendapat 😉

    ReplyDelete

Post a Comment

Tinggalkan komentar anda....!

Previous Post Next Post