Manusia Perantara, Allah Penentu Segalanya

malaikat allah - muslimklopediaSebagai makhluk hidup, kita pasti memiliki kebutuhan. Baik yang perimer maupun sekunder. Kita butuh sandang dan pangan. Kita butuh kendaraan. Kita butuh ini dan itu. Untuk memenuhi kebutuhan itu, kita banting tulang memeras keringat. Berangkat pagi pulang malam. Melawan panas menerobos hujan. Tantangan ditaklukkan. Nyawa ditaruhkan. Bahkan, kadang agama diperjual belikan.

Menurut pandangan Islam, kebutuhan yang harus diperhatikan tidak hanya kebutuhan hidup di dunia saja, tapi juga kebutuhan hidup di akhirat. Sebab, hidup yang sebenarnya bukanlah dunia, tapi akhirat. Dunia hanya sebagai jalan saja. Tak heran, jika banyak aturan dalam mengais rezeqi. Mulai dari cara mencarinya sampai bagaimana hati kita menyikapinya.

Dalam usaha pemenuhan kebutuhan hidup ini, Islam mengajarkan kita agar selalu bersandar kepada Allah swt.. Apa yang kita butuhkan, mintalah kepada Allah. Apa yang kita dapatkan itu pemberian Allah. Apa yang tidak kita dapatkan pun dari Allah. Semuanya dari Allah. Hal itu tergambar dari sabda Rasulullah saw. berikut. Ibnu Abbas bercerita, “Suatu hari, saya berada di belakang Nabi Saw.. Lalu Nabi berkata, “Hai anak muda, saya akan mengajarimu beberapa kalimat: jagalah Allah maka Allah akan menjagamu. Jagalah Allah maka engkau akan menemukan-Nya di depanmu. Jika kau meminta, memintalah kepada Allah. Jika kau minta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya ada bangsa berkumpul untuk memberi menfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu memberi menfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang sudah dituliskan oleh Allah terhadapmu. Seandainya bangsa itu berkumpul untuk membahayakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang memang telah dituliskan oleh Allah terhadapmu. Pena-pena telah diangkat. Lembaran-lembaran telah mengaring.” (HR. at-Tirmidzi)

Setidaknya, ada tiga poin yang ingin penulis terangkan dari Hadis di atas. Pertama, Nabi bersabda, “Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu.” Imam Nawawi memberi pengertian Hadis ini begini. Jagalah dan kerjakan perintah Allah serta jauhi larangannya, Allah akan menjagamu di setiap langkahmu. Allah akan menjaga dunia dan akhiratmu. Intinya, orang yang tekun menjalankan perintah Allah dan menjahui larangannya, dia akan hidup tentaram. Kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh Allah. Rezeqinya lancar. Badannya sehat. Keluarganya juga sehat. Oleh karena itu, jika kita tertimpa musibah, usaha mogok, badan sakit-sakitan, keluarga tidak harmonis, kita harus intropeksi diri. Kita tengok ke belakang. Mungkin, kita durhakah kepada Allah. Kita mengabaikan perintahnya dan melakukan larangannya. Mungkin itu yang membuat kita nestapa. Allah swt. berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri,……..” (QS. As-Syura: 30)

Kedua, Nabi bersabda, “Jika meminta, memintalah kepada Allah!” Hadis ini mengajarkan kita agar kita selalu bersandar kepada Allah. Kita bertawakkal kepada-Nya. Apapun yangk kita butuhkan, kita kembalikan kepada Allah. Selanjutnya, jika yang kita butuhkan itu berhubungan langsung dengan Allah, seperti hidayah, ilmu, keselamatan dunia akhirat, dan sebagainya maka kita langsung meminta kepada Allah swt.. Jika yang kita butuhkan itu tidak mungkin sampai kepada kita kecuali dengan pelantara orang lain, kita meminta kepada Allah agar prosessnya dimudahkan. Seumpama kita membutuhkan kendaraan, maka kita meminta kepada Allah agar diberi jalan yang mudah untuk memiliki kendaraan. Kita meminta agar penjual murah hati sehingga harga kendaraannya juga murah. Dalam masalah ini kita tidak boleh meminta kepada Allah agar tidak butuh kepada makhluk. Sebab, biar bagaimanapun kita adalah makhluk sosial. Saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Suatu ketika, Sayyidina Ali berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah kita tidak membutuhkan makhlukmu!” Mendengar hal itu, Rasulullah menimpali, “Jangan berkata seperti itu. Makhluk itu pasti membutuhkan yang lain. Tapi berdoalah seperti ini, “Ya Allah, jadikanlah kita tidak butuh pada makhlukmu yang jelek.””

Ketiga, tidak dapat dipungkiri, kita pasti ingin dibantu oleh orang yang kita cintai. Di sisi lain, kita juga takut diganggu oleh orang yang kita benci. Dari sinilah, Rasulullah mengajarkan bahwa semua itu tidak mungkin terjadi tanpa seizin Allah. Teman dekat tidak mungkin menguntungkan kita tanpa kehendak Allah. Musuh bebuyutan juga tidak mungkin bisa membahayakan kita tanpa kehendak Allah. Rasulullah bersabda pada Hadis di atas, “Ketahuilah, seandainya ada bangsa berkumpul untuk memberi menfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu memberi menfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang sudah dituliskan oleh Allah terhadapmu. Seandainya bangsa itu berkumpul untuk membahayakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang memang telah dituliskan oleh Allah terhadapmu.” Selain itu, Allah juga berfirman, “ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Dengan demikian, sudah seyogyanya bagi kita untuk selelu bersnadar kepada Allah. Setiap tindak-tanduk kita, kita kembalikan kepada Allah. Kita ingin ini, mintalah kepada Allah. Kita mendapatkan itu, bersyukurlah kepada Allah. Kita selamat dari apa yang kita benci, kita sadari bahwa semua itu dari Allah. Namun, kita juga harus mengakui bahwa kita makhluk sosial. Pasti membutuhkan pada orang lain. Oleh karena itu, kita juga harus saling membantu dan silaturrahim dengan sesama. Bergaul dan berhubungan dengan mereka. Dengan tetap bersandar kepada Allah. Manusia hanyalah perantara, sedangkan Allah penentu segalanya.

 

Post a Comment

Tinggalkan komentar anda....!

Previous Post Next Post