Kenapa Kita Masih Berani Durhaka?

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ [ق: maksiat_sepi16

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaf (50): 16)

Menurut Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, pengertian ayat di atas seperti ini. Allah swt. menjadikan kita dan dia pun tahu apa yang terbesit dalam hati kita. Allah lebih dekat dengan kita dengan ilmunya, daripada urat leher kita[1]. Dalam ayat lain, Allah swt. berfirman,  “…………..Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada…….” (QS. Al-Hadid: 4) Mengenai ayat ini, ada dua penertian yang dikemukakan Imam al-Mawardi. Pertama, dimanapun kalian berada Allah swt. pasti tahu. Apapun yang kalian kerjakan, tidak mungkin luput dari pengawasan Allah swt.. Kedua, dimanapun kalian berada, kekuasaan Allah swt. pasti bersama kalian. Allah pasti kuasa pada urusan apapun yang menyangkut kalian[2].

Jadi, Allah swt. selalu melihat kita. Mengetahui keberadaan kita. Dimanapun kita berada. Apapun yang kita kerjakan. Bahkan, dalam hati kita pun Allah swt. mengetahuinya. Jika demikian, kenapa kita masih berani durhaka?

 

[1] Al-Maliki, Sayyid Alwi bin Sayyid Abbas, Fath al-Qarib al-Mujib ‘Ala Tahdzib Wa Targhib, hal: 246, HAI’AH AS-SHOFWAH

[2] Al-Mawardi, an-Nukat Wa al-Uyun, Juz: 4, hal:232

Post a Comment

Tinggalkan komentar anda....!

Previous Post Next Post